Flashing ROM Fastboot MIUI dari GNU/Linux


Jika Anda membaca cerita mengenai bagaimana saya mengatasi bootloop pada Xiaomi Mi 4c, tentunya terbayang kerepotan yang saya lakukan kala itu. Hape bootloop, kapasitas baterai kian menyusut, tidak ada akses internet hingga memasang Windows 7 64 bit.

Itu bootloop perdana yang saya alami pada hape milik pribadi, jadi ya lumayan panik. Kini, setelah hape normal kembali kadang saya tersenyum kecut mengingat kejadian tersebut. Terlebih, setelah mengetahui ternyata kita tidak perlu berepot-ria memasang Windows 64 bit, atau bahkan tidak perlu Windows sama sekali jika hanya untuk flashing ROM fastboot ke Xiaomi.

Pada saat kekisruhan mengatasi bootloop tersebut, saya mendapati bahwa di dalam berkas ROM fastboot Xiaomi terdapat dua buah skrip Bourne shell (sh). Berdasar penemuan ini, setelah hape sembuh dari bootloop, saya pun kemudian mencari guna dari skrip-skrip tersebut. Dan ternyata, skrip tersebut berguna untuk melakukan flashing dari dalam sistem Linux (atau mungkin BSD dan sistem lainnya yang mengerti Bourne shell dan memiliki adb serta fastboot). Wow, andai saya tahu dan paham lebih awal...

Kemarin, demi menuntaskan rasa penasaran mengapa kemampuan penerimaan sinyal Mi 4c masih juga lemah meski telah berganti custom ROM dari yang berdasar Android 7 ke custom ROM yang berdasar Android 5.1.1, saya pun berencana melakukan flashing ulang ke ROM MIUI 6.1.7 yang berdasar Android 5.1.
Jika ternyata setelah diganti ke ROM MIUI Android 5.1 penerimaan sinyalnya masih juga lemah, sepertinya kerusakan bukan pada tingkat perangkat lunak, melainkan telah pada tingkat perangkat kerasnya.

Berikut rangkuman langkah demi langkah yang saya lakukan untuk flashing ROM fastboot ke hape Xiaomi Mi 4c dari dalam sistem Debian Sid. Sebagai catatan, bootloader hape ini telah unlocked. Saya tidak tahu apa ini berpengaruh ke bisa atau tidaknya kita flashing dari Linux, but, that's it, just for your information....

Baca selengkapnya

Mengatasi Bootloop Pada Xiaomi Mi 4c


Judul artikel kali ini mungkin agak sedikit clickbaity, karena ada banyak ragam bootloop dan mungkin apa yang telah saya berhasil lakukan untuk mengatasi bootloop di Mi 4c ini ternyata tidak bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan bootloop di Mi 4c Anda.
Jadi, mari kita mulai artikel ini dengan menceritakan latar belakang yang menjadi penyebab hape Mi 4c saya menjadi bootloop dan bagaimana cara saya mengatasinya.

Shit happens...

Begitulah. Sepertinya tidak ada kata yang sanggup menggambarkan peristiwa ini. Shits happens... in a shittiest way it could happens...
Bermula dari mendadak berkurangnya sinyal Indosat, saya rasakan hape ini kok keteteran dalam menangkap sinyal yang ada. Entah karena pancaran sinyal Indosat yang memang jatuh ke titik yang nadir, atau (ini yang ada di pikiran kala itu) karena saya baru saja berganti ROM ke MultiROM beta. Benak langsung menunjuk penggantian ROM, karena sebelumnya ketika memakai ROM xiaomi.eu sepertinya belum pernah mengalami kesulitan dalam penerimaan sinyal. Walau memang, jika dipikir-pikir kala memakai xiaomi.eu belum pernah mengalami krisis sinyal GSM seburuk ini.

Berdasar asumsi tersebut, saya pun berkesimpulan mungkin jika ROM dikembalikan ke xiaomi.eu, atau setidaknya ke MultiROM yang stabil, kemampuan penerimaan sinyal oleh hape akan kembali memuaskan.
Setelah menimbang, pilihan pun jatuh ke MultiROM stabil multirom_MI4c_V8.1.3.0.LXKCNDI_v5.1.1_b29_111a851931. Setelah baterai penuh diisi, ROM pun flashed menggunakan fitur adb sideload dari TWRP. Proses flashing berjalan dengan lancar, hingga akhirnya hape pun rebooted.

Have I told you that shits happens?

Selepas flashed dan dihidupkan ulang, hape ternyata tidak bisa boot dengan lancar, melainkan hanya sekilas menampilkan logo Mi dan langsung mati untuk kemudian hidup lagi, demikian seterusnya. Bagi yang terbiasa mengoprek Android, mungkin telah akrab dengan istilah bootloop, sebuah peristiwa di mana hape akan berulang (looping) melakukan boot-mati...
Yep, kini hape semata wayang kulit ini ternyata bootloop.

Baca selengkapnya

Membuat Software Portable di GNU/Linux Menggunakan AppImage


AppImage merupakan salah satu solusi tertua untuk menjawab persoalan bagaimana mengemas perangkat lunak agar bisa langsung dijalankan pada banyak distro GNU/Linux. Jika Anda belum mengenal AppImage, bayangkan saja ia seperti portable software untuk dunia GNU/Linux. Kita tidak perlu memusingkan distro, dependencies atau package manager, cukup unduh software yang dikemas menjadi AppImage, jadikan executable dan kemudian jalankan. That's simple.

Meski telah lama beredar, dan bahkan menuai pujian dari tokoh sekaliber Linus Torvalds, popularitas AppImage tidak kunjung menanjak dan malah cenderung tenggelam tertelan riuhnya berita aplikasi sejenis; snaps dan flatpak.
Karenanya, dalam artikel kali ini saya akan mencoba mengangkat topik AppImage dengan bahasan bagaimana cara membuat berkas AppImage untuk Genymotion.
Sengaja saya pilih Genymotion sebagai contoh AppImage karena kebetulan kemarin baru saja menulis artikel bagaimana cara memasang Genymotion. Jadi, pastinya masih segar dalam ingatan.

Dokumentasi selengkapnya mengenai AppImage bisa dibaca di sini. Sementara jika Anda malas untuk membuat sendiri dan ingin langsung mencoba berkas AppImage yang sudah jadi, unduh koleksi berkas biner AppImage di repo bintray ini.

Baca selengkapnya

Menjalankan Aplikasi Android di Linux Menggunakan Genymotion


Ketika Stallman menganjurkan penyebutan GNU/Linux untuk banyak sistem operasi yang menggunakan kernel Linux, banyak orang menganggap seakan dia "gila hormat" dan berkilah sebaiknya mulai juga menambahkan Xorg, KDE dan lainnya yang bukan GNU tiap kali merujuk Linux.

Dan kini kita mendapati Android, yang berdasar kernel Linux tapi tidak menggunakan perkakas GNU. Apakah Android itu Linux? Tapi ia tidak bisa menjalankan aplikasi Linux, dan aplikasi Android pun tidak bisa dijalankan di Linux.

Saya tidak akan mendebat semantik GNU/Linux ataukah Android/Linux, yang pasti karena pengembangan Android yang "meledak" membuatnya memiliki banyak pilihan aplikasi menarik. Nah, saya lebih tertarik bagaimana agar bisa menjalankan aplikasi-aplikasi Android tersebut di lingkungan desktop GNU/Linux.

Langsung begitu saja menjalankan APK di GNU/Linux pastinya tidak bisa.
Rintisan Google untuk menjalankan APK sebagai Chrome Apps sempat melambungkan asa, namun akhirnya kandas karena Google menghentikan proyek ini.
Dan baru-baru ini muncul proyek Shashlik yang tampaknya memiliki tujuan yang lebih ambisius.

Tidak diragukan lagi Shashlik memang menarik, namun ia masih jauh dari "siap pakai", dan utamanya saya sendiri belum pernah mencoba. Jadi kita lewatkan dulu Shashlik dan membahas yang telah nyata terbukti bisa digunakan untuk menjalankan APK di GNU/Linux; Genymotion.

Sebenarnya Genymotion tidak benar-benar bisa membuat kita menjalankan APK di atas lingkungan GNU/Linux sebagaimana kita bisa menjalankan software Windows di GNU/Linux dengan menggunakan wine. Melainkan ia menyediakan lingkungan mesin virtualisasi yang mengemulasi lingkungan Android.
Genymotion sendiri bukan tanpa kelemahan; (1) ia berdasar android-x86, yang artinya mungkin banyak APK yang akan tidak bisa dipakai di Genymotion karena umumnya APK dikompilasi untuk prosesor arm, (2) integrasinya dengan lingkungan desktop Linux tidak sebaik virtualisasi lain, dan (3) Genymotion membutuhkan sumber daya yang besar.

Dengan sedemikian banyak kelemahannya, saya tetap menyarankan kepada Anda yang berminat menjalankan APK di komputer GNU/Linux untuk memasang Genymotion. Karena bisa dikata, tidak ada alternatif lain yang sematang Genymotion.
Tentu saja, disamping kelemahan-kelemahan di atas, ada juga keuntungan kita menggunakan Genymotion. Misalnya saja; (1) menjaga hape Android tetap langsing karena tidak banyak memasang aplikasi, (2) bisa mencoba-coba banyak aplikasi tanpa takut merusak sistem, dan (3) menjalankan aplikasi Android dengan spesifikasi emulator yang tinggi.

Baca selengkapnya

Agar Awk Hanya Menampilkan Kecocokan Pertama yang Ditemukannya


Judul apa pula ini...
Ya ya ya, efficient title is hard. Jadi izinkan saya untuk sedikit berpanjang lebar menyampaikan maksud dari judul yang aneh ini.

Alkisah, seringkali ketika berkelana di dunia maya dan menemukan artikel yang menarik atau dirasa berguna, maka saya kemudian menyimpannya agar bisa dibaca di kemudian waktu. Because you know, internet is unreliable.
Seperti yang sebelumnya telah sekilas disinggung dalam artikel Mari Hijrah ke Firefox Quantum, addons Mozilla Archive Format, with MHT and Faithful Save (MAF) yang biasanya saya gunakan untuk menyimpan laman web tidak bisa lagi digunakan di Firefox teranyar.

Lalu apa masalahnya? Nyimpen halaman kan bisa pake fitur bawaan Firefox?
Masalahnya adalah saya telah banyak memiliki berkas MHT hasil penyimpanan MAF, dan berkas ini kini tidak bisa dibuka menggunakan Firefox teranyar, mesti menggunakan Firefox lama atau peramban lain misalnya Opera. MAF sendiri memiliki fitur untuk mengekspor berkas MHT menjadi HTML, namun hasilnya kurang memuaskan.

Jadi ya, sambil menunggu siapa tahu Firefox kembali mendukung berkas MHT atau ada addons yang memungkinkan membaca berkas MHT, terlintas dalam benak ini untuk kembali mengunduh berkas tersebut satu per satu.

Baca selengkapnya

Kembali ke atas